<?xml version="1.0" encoding="windows-1251"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
		<atom:link href="https://promotyu.idsosial.net/export.php?type=rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<title>promosi bisnis</title>
		<link>http://promotyu.idsosial.net/</link>
		<description>promosi bisnis</description>
		<language>ru-ru</language>
		<lastBuildDate>Tue, 28 Apr 2026 23:26:04 +0300</lastBuildDate>
		<generator>MyBB/mybb.ru</generator>
		<item>
			<title>Test topic</title>
			<link>http://promotyu.idsosial.net/viewtopic.php?pid=7#p7</link>
			<description>&lt;p&gt;*TELEVISI* &lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Penulis: Partikel Atom&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Pada sebuah kesempatan, Faisal Oddang, penulis Puya ke Puya, menyebutkan bahwa kita sebenarnya tersusun oleh sejumlah cerita. Hanya saja, kita tidak tahu bahwa kita memiliki cerita itu. Kita tidak memberi nama pada cerita itu, atau mungkin tidak mengenalinya. Saya membenarkan ucapan penulis asal Makassar ini. Seharusnya semua orang bisa menulis. Bahan bakarnya untuk menulis yaitu cerita, dan semua orang pasti memilikinya. Pengalaman saya sejak kecil hingga hari ini tentu berbeda dengan pengalaman orang lain. Nah, perbedaan itulah yang membuat cerita jadi menarik.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Kita ambil satu topik, televisi misalnya. Saya dan kamu sebagai pembaca tentu punya pengalaman yang berbeda dengan benda kotak satu ini. Ingatan terjauh saya tentang televisi mungkin saat umur 4 tahun, menjelang tahun 2000. Di mana di kampung kami, hanya dua rumah yang memiliki televisi. Yang pertama di rumah kepala desa, dan yang kedua rumah satu-satunya keluarga China, pemilik toko kelontong bernama Toko Melati yang ada di kampung kami. Tentu, di mata kami warga, televisi adalah benda mewah. Jangankan televisi, listrik saja masih jadi sesuatu yang langka. Kebanyakan penerangan di rumah-rumah warga masih menggunakan lampu botol atau lampu semprong yang bahan bakarnya menggunakan minyak tanah.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Ketika malam tiba, biasanya di kedua tempat itu (rumah kepala desa dan Toko Melati) akan ramai warga kampung berkumpul. Bukan karena ada maling, bukan pula karena ada hajatan, tetapi karena ingin menonton televisi. Bahkan, saking padatnya ketika itu, di Toko Melati sempat dikarciskan. Yang bayar mendapat posisi VIP duduk di depan dan tersedia kursi-kursi plastik. Adapun yang lainnya, yang hanya menumpang gratisan, menggunakan sistem siapa cepat. Paling cepat datang bisa dapat posisi pas untuk melihat layar benda kotak ukuran 21 inci itu yang diletakkan agak tinggi di teras depan toko. Adapun yang telat, kadang hanya melihat dari luar pagar, kadang sampai berjam-jam dengan posisi berdiri. Dan saya ingat betul, papa pernah ada di posisi itu sambil menggendong saya di atas pundaknya agar saya bisa menyaksikan tayangan televisi.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Tontonannya acak, tergantung pemiliknya: kadang tinju, kadang MotoGP, kadang sepak bola, kadang drama sinetron. Tidak ada yang bisa protes mau menonton apa, semua hanya menikmati. Pemandangan serupa juga sama di rumah kepala desa. &lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Jadi, setiap malam satu-satunya hiburan warga kampung ya ini, setelah penat seharian di kebun jika itu petani, dan di laut jika itu nelayan. Kampung saya adalah sebuah kepulauan. Sebagian warganya mencari nafkah dengan melaut dan sebagiannya berkebun. Jangan heran ketika ada yang izin tidak masuk sekolah karena sedang musim panen, misalnya, atau ikut orang tua ke laut untuk menjala ikan.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Tidak lama setelah gempa tektonik yang melanda kampung kami pada tahun 2000, papa memboyong kami sekeluarga untuk pindah ke Gorontalo. Papa mencoba peruntungan di kota berjuluk Serambi Madinah ini. Papa bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan kayu. Kami tinggal di sebuah mes khusus karyawan. Nah, hubungan saya dengan televisi sedikit naik level. Mes ini terdiri dari 10 rumah ukuran minimalis yang saling berdempetan. Di tengah-tengahnya ada ruangan khusus untuk menonton televisi. Jadi, kami tidak perlu lagi berdempet-dempetan dengan warga sekampung. Kali ini persaingan lebih longgar. Bahkan beberapa waktu setelahnya, hampir semua rumah sudah memiliki televisi sendiri, sehingga yang menggunakan fasilitas ruang menonton itu hanya beberapa keluarga saja. Di sini saya mulai berkenalan dengan Teletubbies di pagi hari, atau Hachi, seekor lebah yang mencari ibunya, atau Scooby-Doo yang memecahkan berbagai kasus misteri.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Namun sayangnya itu tidak berlangsung lama. Hanya setahun setelahnya, papa dipindahkan ke tempat yang baru, masih di Gorontalo tetapi di wilayah yang berbeda. Kami sekeluarga pindah. Di tempat baru ini juga disediakan mes untuk karyawan, tapi ada yang berbeda dan itu membuat saya sedih: tidak ada ruangan untuk menonton televisi. Sehingga untuk bisa menonton televisi, kami harus menumpang di tetangga. Tentu, namanya menumpang, kita tidak bisa bebas. Tidak bisa mengikuti selera kita mau menonton apa, dan ada batas waktunya. Ketika malam misalnya, tuan rumah sudah terlihat beberapa kali menguap, itu adalah kode sudah waktunya pulang. Atau kalau pintu ditutup meski suara televisi terdengar sampai keluar, itu tandanya pemilik rumah tidak ingin diganggu dan jangan memaksa untuk mengetuk. Kata mama, itu tidak sopan. Kita harus tahu diri sebagai tamu.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Hingga di satu hari, saya masih ingat betul itu hari Minggu, saya sudah kelas dua SD. Selayaknya anak-anak laki-laki di masa itu, saya yakin 99,9 persen, ketika hari Minggu tontonan yang paling ditunggu adalah Power Rangers. Ya, saya juga salah satunya. Saya dan kakak saya pagi-pagi sudah mandi, rapi. Kami pamit ke mama mau ke rumah tetangga yang anaknya seumuran kami. Kami memang biasanya menumpang menonton televisi di situ. Kami sangat senang karena pintu rumahnya terbuka, dan dari kejauhan kelihatan televisi sedang menyala. Teman kami itu sedang tidur selonjoran di depan televisi, dengan kaki terangkat ke meja tempat TV diletakkan, sambil memegang remote. Saya dan kakak saya cepat-cepat ke sana.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Tentu jadwal tayang Power Rangers masih lama, nanti menjelang siang. Tapi kami juga mau menonton film kartun lainnya yang pada saat itu hampir semua channel televisi menampilkan acara kartun atau tontonan anak-anak di hari Minggu. Namun kemudian langkah kami terhenti ketika sampai di teras. Baru saja melepas sandal, pintu rumah langsung ditutup. Bahkan gorden jendela ikut ditutup setelahnya. Saya dan kakak saya hanya bisa saling menatap. Sebagai anak kecil, saya langsung meneteskan air mata. Kakak saya tetap berusaha tersenyum, mengelus pundak saya, lalu mengajak saya pulang.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Setelah kejadian itu, saya tidak mau lagi menonton TV, meski diajak mama atau papa ke rumah tetangga kami yang anaknya sombong itu. Hingga akhirnya cerita sebenarnya sampai ke mama melalui kakak saya. Ia menceritakan apa yang kami alami beberapa hari sebelumnya.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Di suatu malam, papa mendatangi saya, menghibur saya. Janjinya, semoga kerja papa lancar, saat gajian nanti kami akan membeli televisi. Refleks saya bersorak gembira. Saya tidak sabar menunggu waktu itu tiba.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Dan di akhir bulan, setelah gajian dengan penghasilan yang tidak seberapa itu, papa tetap menepati janjinya. Saya sangat senang. Meski itu bukan televisi mewah yang menggunakan parabola Indovision, melainkan hanya menggunakan antena yang diikat ke bambu panjang yang ditanam di depan rumah. Walau gambar di televisi tidak selalu normal karena tergantung cuaca—kalau hujan dan berangin, siaran akan kabur, warnanya hilang, atau bahkan tidak ada siaran sama sekali—tetapi intinya, akhirnya saya bisa menonton TV dengan bebas. Tidak ketinggalan lagi episode terbaru Jinny Oh Jinny, Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, atau Wiro Sableng dengan kapak 212-nya itu.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Itu adalah televisi pertama di rumah kami, dan masih ada sampai sekarang. Tahun 2008, ketika kembali ke kampung halaman, televisi itu sempat tidak digunakan karena rumah kami belum memiliki listrik. Beberapa tahun setelahnya, ketika rumah kami sudah dialiri listrik, barulah televisi itu kembali berfungsi sebagaimana mestinya, tidak hanya menjadi pajangan di ruang tamu. Namun tidak berselang lama, televisi itu rusak.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Lebaran tahun ini, saya berkesempatan pulang kampung, menengok mama yang kini tinggal bersama nenek saya di rumah setelah papa meninggal beberapa tahun lalu. Televisi penuh kenangan itu ternyata masih menyala. Bahkan saya sempat menonton pertandingan sepak bola saat itu. Kata mama, televisi itu pernah dibawa ke tukang servis. Lumayan untuk hiburan saat mama kesepian di rumah. Televisi itu menyimpan banyak kenangan, dari saya kelas dua SD hingga usia saya menjelang tiga puluh tahun hari ini.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Nah, kembali ke pembahasan awal. Ini baru soal televisi saja. Tentu cerita saya dengan cerita kamu pasti berbeda, kan? Belum lagi hal lainnya dalam hidup kita masing-masing. Karena itu, seharusnya kita semua menyadari potensi untuk menulis. Sebab cerita-cerita itu sebenarnya sudah ada dalam diri kita, dalam pengalaman-pengalaman kita, dalam apa yang kita alami. Dan itu bisa saja menarik bagi orang lain.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Orang yang tinggal di kota besar atau anak-anak zaman sekarang mungkin tidak pernah mengalami seperti apa yang saya ceritakan tadi—berdesak-desakan hanya untuk menonton televisi. Dan itu bisa menarik bagi mereka. Sama halnya dengan saya dulu yang dari kampung, selalu merasa tertarik ketika mendengar para perantau yang pulang dan bercerita tentang luar biasanya hidup di kota: terang benderang, transportasi lengkap, mal-mal mewah. Dan begitulah ajaibnya cerita.&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;Lalu, kapan kamu menulis ceritamu?&lt;/p&gt;
						&lt;p&gt;_______________&lt;br /&gt;_Jangan lupa kasih reaction biar makin rame &amp;#10084;&amp;#65039;&amp;#128077;_&lt;/p&gt;</description>
			<author>mybb@mybb.ru (yulisr)</author>
			<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 23:26:04 +0300</pubDate>
			<guid>http://promotyu.idsosial.net/viewtopic.php?pid=7#p7</guid>
		</item>
	</channel>
</rss>
